Mengenal Hasani, Doktor Asal Pabean Purwakarta

CILEGON,LOCALNEWS.CO.ID – Dalam wisuda ke- 83 UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta tahun 2011, Dr. H. Hasani Ahmad Said, S. Th.I, MA, mendapatkan gelar terbaik yang kala itu disampaikan Rektor Prof. Dr. Komarudin. Ketika  mendapat gelar doktor, Hasani masih berusia 29 tahun. Pria yang lahir di Kelurahan Pabean, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon pada 21 Febuari 1982, tercatat sebagai lulusan tercepat dan termuda.

Kini putra ke-11 pasangan H. Ahmad Syamsuri dan Sunariyah mengabdi di almamaternya sebagi dosen tetap Fakultas Ushuluddin, Program Studi Ilmu Alquran dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan pangkat dan golongan Lektor Kepala, IV/a, Kum 550.

Menurut Hasani, pencapaiannya terinspirasi dari beberapa cendekiawan UIN seperti Cak Nur, Prof. Azyumardi Azra, Prof. Quraish Shihab, Prof. Komarudin Hidayat, Prof. Din Syamsudin, Prof. Nasarudin Umar, Prof. Amani B. Lubis, dan lainnya. “Tekad kuat itu akhirnya terkabul menuju gerbang peradaban di kampus biru saat itu bernama IAIN dan diterima di Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir Hadits,” cerita Hasani kepada LocalNews, Rabu (16/06/2021).

Berbekal suara emas dalam bidang nagham Alquran yang pernah digeluti sejak menempuh pendidikan madrasah di kampungnya dan diperdalam melalui wadah dalam Himpunan Qori-Qori’ah Mahasiswa (HIQMA) di kampusnya, Hasani memulai karirnya.

Kehidupan dari satu masjid ke masjid lain dengan tetap mempertahankan kualitas suara emas tilawatil Alquran, ternyata banyak mendatangkan rizki yang cukup untuk biaya kuliah dan makan sehari-hari ketika itu. Mulai dari mengajar ngaji, khutbah, dan mengisi pengajian. “Sering sebagai qori baik acara PHBI, nikahan, seminar, dari tingkat kampung, masjid kecil, besar, hotel, hingga mengaji ke istana negara,”tuturnya.

Hasani juga tercatat sebagai salah satu Dewan Pakar Masjid Fathullah UIN Syarif Hidayatulhah. Sebelumnya dia, sempat menjadi muadzin dan imam di masjid tersebut. Dari Masjid Fathullah ini, ia terdidik mandiri, komitmen waktu dan banyak pelajaran penting lainnya, bahkan tak jarang Hasani harus tinggal di masjid. Berkah Alquran membawanya menjadi sarjana hingga meraih gelar magister dan doktor dalam waktu cepat.

Hasani mengenang masa-masa tahun 2001 silam, ketika hendak dilepas keluarganya untuk menuntut ilmu ke UIN Jakarta, dengan diiringi tangisan dan do’a orang tuanya yang khawatir tidak mampu membiayai pendidikannya. Namun dengan penuh keyakinan sang ayah berseloroh dengan bahasa khas Cilegon. “Aje maning tanah San (panggilan Hasani), idep ge ning laku meuh tak dol ari gena pendidikan meuh (Jangankan tanah, bulu mata juga kalau laku pasti dijual kalau untuk biaya pendidikan-red),” kenang Hasani.

Kata-kata sang ayah tersebutlah menjadi salah satu penyemangat yang terus membekas, sehingga dapat terus menyambung hingga meraih gelar doktor. “Tak kalah penting adalah selalu ada doa Ibu yang mengantarkan semua keberhasilan ini,” katanya. (hasidi-LN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *