Pensiunan TNI Sudarmana Ajak Masyarakat Cilegon Geluti Budidaya Porang

CILEGON,LOCALNEWS.CO.ID- Potensi budidaya tanaman porang yang booming dalam beberapa tahun terakhir dimanfaatkan pensiunan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Sudarmana, untuk menggeluti budidaya tanaman yang selama ini dianggap liar tersebut. Sudarmana melihat potensi dan peluang usaha menjanjikan secara ekonomis karena memiliki nilai ekspor.

Porang merupakan jenis tanaman umbi-umbian yang tergolong dalam spesies Amorphophallus Muelleri. Beberapa daerah di Jawa menyebutnya iles-iles. Porang dianggap sebagai tanaman liar yang diabaikan. Bahkan sebagian masyarakat mengenal porang sebagai tanaman makanan ular. Namun beberapa negara seperti Jepang, China, Taiwan, dan Korea, memanfaatkan umbi tanaman ini sebagai bahan baku tepung untuk kosmetik, lem, maupun campuran makanan.

Setidaknya Sudarmana sudah menggeluti budidaya porang sejak enam bulan lalu dengan memanfaatkan lahan seluas 8.000 m2 yang berlokasi di Lingkungan Ciputri, Kelurahan Cikerai, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon.

Bahkan kata pria paruh baya yang juga dikenal sebagai pengusaha ini, budidaya porang sangatlah mudah. “Kalau bicara soal porang, perlu mengubah mindset masyarakat yang selama ini menganggap sebagai tanaman makanan ular atau tanaman liar. Itu keliru besar, kalau dilihat hampir sama tetapi beda,” kata Sudarmana, saat dikunjungi LocalNews, di kebunnya di Cikerai, Senin (22/2/2021). “Menanam porang paling mudah sebenarnya, bagaimana tanaman liar ini menjadi manfaat dan bagaimana kita meyakinkan masyarakat bahwa tanaman ini bisa diberdayakan dan menghasilkan secara ekonomi,” tambahnya

Lanjut Sudarmana, sejak enam bulan lalu melakukan budidaya, sudah menanam sekitar 25.000 batang porang dari jenis bibit katak dan bibit umbi. “Porang memiliki manfaat besar, mulai dari umbi hingga jenis katak bisa dijual dengan harga menggiurkan. Saya mulai menanam dari bibit dan umbi dengan sistem pola tanam di tempat yang ada naungannya dan tanpa naungan di dua media tanah berbeda yaitu tanah merah dan tanah pasir. Nanti kita lihat hasilnya bagus yang mana, dengan harapan di akhir tahun 2021 masa tanam kedua bisa lebih baik dan maksimal,” bebernya.

Lanjutnya, tanaman porang juga tumbuh musiman, sehingga harus mengetahui kondisi alam jika ingin keuntungan lebih. “Musim tanam dengan daerah curah hujan tinggi itu lebih awal untuk penanaman, jika daerah panas bisa dilakukan di akhir musim. Musim tanam ini idealnya kalau untuk di bawah teduhan, begitu ada hujan dua atau tiga kali kita sudah bisa tanam, kalau untuk di tempat terbuka kira- kira jika musim hujannya belakangan, ya belakangan tanamnya, tidak bisa dipukul rata,” jelasnya.

Ia menjelaskan ada dua hasil yang didapatkan petani dari budidaya ini, yaitu hasil dari penjualan jenis porang katak dan hasil penjualan porang umbi. Porang katak bisa dijual kisaran Rp 180.000 – Rp 300.000/kg, dan jenis porang umbi kisaran Rp 5000-Rp 8.000/kg. “Saya yakin kalau untuk budidaya ini untungnya sangat besar, saya membuka kesempatan berdiskusi kepada masyarakat yang ingin melihat langsung dan belajar bersama budidaya ini. Sehingga tidak ada lagi beredar informasi, ketika kita menanam satu katak akan menghasilkan satu katak, itu tidak benar. Buktinya saya menanam satu katak bisa tumbuh empat katak. Makanya buktikan di sini,” jelasnya.

Diceritakan, selain menanam porang di kebun, Sudarmana juga menanamnya di lahan kosong depan rumahnya. “Saya mengajak masyarakat  untuk menanam dan bisa menangkap peluang- peluang bisnis apalagi di masa pandemi Covid-19 saat ini. Harapan saya masyarakat bisa memberdayakan lahan kosong atau lahan tidur yang ada di perusahaan misalnya.  Kepada para pejabat -pejabat perusahaan untuk memberikan izin garap kepada masyarakat dengan memanfaatkan lahan tidur milik perusahaan, syukur- syukur Kota Cilegon menjadi komoditi porang dengan pemanfaatan lahan kosong,” harap Sudarmana. (ihsan-LN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *